Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengundurkan diri dan akan mengakhiri masa jabatannya pada 7 Februari 2027, lebih cepat dari jadwal semula pada akhir Oktober 2027.
Pergantian pimpinan ini terjadi ketika Eropa menghadapi tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, serta ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden Prancis.
Pengunduran diri Lagarde pada Kamis (29/10/2026) sekaligus mengakhiri spekulasi mengenai masa depannya yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Baca Juga: Bank Sentral Eropa (ECB) Mengerek Suku Bunga Jadi 2,5%
Keputusan tersebut juga memberi waktu bagi para pemimpin Uni Eropa untuk menunjuk penggantinya sebelum pemilihan presiden Prancis, yang menurut jajak pendapat berpotensi dimenangi kandidat sayap kanan Marine Le Pen.
Lagarde, 70 tahun, menyatakan keputusannya dengan menegaskan bahwa ia meninggalkan bank sentral tersebut dalam kondisi siap menghadapi tantangan ke depan.
"Saya meninggalkan institusi ini dengan perasaan telah melakukan pekerjaan dengan baik dan ECB yang siap menghadapi masa depan," kata Lagarde dalam video yang dibagikan melalui media sosial.
Sumber yang mengetahui langsung persoalan tersebut mengatakan, Lagarde ingin memiliki ruang untuk menyuarakan pandangannya mengenai isu politik di Prancis maupun dunia.
Sebagai presiden ECB, ia dituntut menjaga netralitas politik untuk mempertahankan independensi bank sentral.
Keputusan tersebut menuai tanggapan berbeda. Anggota Parlemen Eropa dari Partai Rakyat Eropa, Markus Ferber, menilai pengunduran diri lebih awal berisiko mengirimkan sinyal keliru ketika inflasi masih tinggi, pasar obligasi bergejolak, dan pemilihan umum semakin dekat.
Baca Juga: Bank Sentral Eropa (ECB) Diprediksi Akan Naikkan Suku Bunga Hari Ini
Sebaliknya, Presiden lembaga riset ekonomi Jerman DIW, Marcel Fratzscher, menilai langkah Lagarde menunjukkan tanggung jawab terhadap Eropa karena memberi kesempatan kepada pemerintah dan lembaga Uni Eropa untuk memilih pengganti yang mampu menjaga nilai-nilai Eropa serta independensi ECB.
Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mengatakan proses pencarian pengganti Lagarde akan segera dimulai.
Penunjukan tersebut berpotensi menjadi bagian dari pergantian sejumlah pejabat tinggi ECB lainnya, termasuk anggota dewan eksekutif Isabel Schnabel yang dijadwalkan meninggalkan jabatan pada awal Januari dan Kepala Ekonom Philip Lane yang masa jabatannya berakhir pada Mei.
Mantan gubernur bank sentral Belanda Klaas Knot dan mantan gubernur bank sentral Spanyol Pablo Hernandez de Cos disebut-sebut sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan Lagarde.
Meski demikian, pengunduran diri tersebut sejauh ini tidak banyak memengaruhi pasar keuangan.
Sejumlah analis menilai pasar telah cukup mengenal pola kebijakan ECB sehingga pergantian pimpinan tidak serta-merta mengubah arah kebijakan bank sentral.
Di tengah tekanan inflasi dan obligasi
Pergantian kepemimpinan ECB berlangsung ketika bank sentral menghadapi tantangan menjaga stabilitas harga tanpa semakin menekan pertumbuhan ekonomi.
Lonjakan harga minyak akibat perang Iran meningkatkan risiko inflasi, sementara kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, terutama di Prancis, mendorong biaya pinjaman rumah tangga dan dunia usaha.
Kondisi tersebut membuat ECB menghadapi dilema kebijakan. Kenaikan suku bunga diperlukan untuk mencegah lonjakan harga energi merembet ke harga barang dan upah, tetapi pengetatan moneter juga berisiko memperlambat aktivitas ekonomi ketika biaya pembiayaan sudah meningkat.
Baca Juga: Pejabat Bank Sentral Eropa Khawatirkan Hubungan dengan Amerika Serikat Makin Jauh
ECB diperkirakan mempertahankan suku bunga deposito di level 2,5% dalam rapat Kamis (29/10). Namun, bank sentral diperkirakan tetap membuka peluang kenaikan suku bunga berikutnya, bahkan pada Desember, jika tekanan inflasi meningkat seiring kenaikan harga energi.
Ekonom Oxford Economics Oliver Rakau menilai ambang untuk menaikkan suku bunga pada Desember relatif rendah, mengingat kenaikan harga energi berpotensi mendorong ECB kembali merevisi proyeksi inflasinya ke atas.
Pasar keuangan saat ini memperhitungkan tiga kali kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir 2027. Jika terealisasi, suku bunga deposito ECB akan mencapai 3,25%, level yang dinilai dapat membatasi pertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian, tantangan bagi pengganti Lagarde bukan hanya menjaga kesinambungan kebijakan moneter, melainkan juga menyeimbangkan pengendalian inflasi dengan kebutuhan mempertahankan pertumbuhan ekonomi Eropa di tengah tekanan energi, biaya pinjaman, dan ketidakpastian politik.














