Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap fasilitas energi Ukraina pada Sabtu (7/2/2026) dini hari, dengan sasaran utama pembangkit listrik dan jaringan distribusi listrik.
Hal ini disampaikan otoritas Ukraina, di tengah musim dingin ekstrem yang semakin membebani sektor energi negara tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan serangan semalam melibatkan lebih dari 400 drone serta sekitar 40 rudal dari berbagai jenis.
Baca Juga: Bank Sentral China Borong Emas untuk Bulan ke-15, Nilai Cadangan Melonjak!
Serangan itu menargetkan jaringan listrik nasional, fasilitas pembangkitan energi, serta gardu dan jaringan distribusi listrik.
Hampir empat tahun sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina, sektor energi negara itu kian terpuruk akibat serangan berulang, akumulasi kerusakan selama perang, serta suhu musim dingin yang sangat dingin.
Rusia Pilih Serangan Ketimbang Diplomasi
“Setiap hari Rusia sebenarnya bisa memilih diplomasi nyata, tetapi yang dipilih justru serangan baru,” tulis Zelenskiy di platform X.
Ia menegaskan pentingnya respons tegas dari semua pihak yang mendukung perundingan trilateral.
“Moskow harus dicegah menggunakan musim dingin sebagai alat tekanan terhadap Ukraina,” ujarnya.
Baca Juga: SpaceX Tunda Rencana ke Mars Demi Fokus Misi Pendaratan ke Bulan di Tahun 2027
Hingga berita ini ditulis, Moskow belum memberikan komentar resmi terkait serangan tersebut.
Menteri Energi Ukraina Denys Shmyhal mengatakan serangan Rusia menghantam dua pembangkit listrik tenaga termal di wilayah barat Ukraina, serta elemen vital sistem distribusi listrik nasional, termasuk gardu induk dan jalur transmisi utama.
“Para penjahat Rusia kembali melakukan serangan besar terhadap fasilitas energi Ukraina,” kata Shmyhal melalui Telegram.
Ia menambahkan bahwa para pekerja sektor energi siap melakukan perbaikan segera setelah situasi keamanan memungkinkan.
Serangan terjadi saat suhu udara mulai turun tajam dan diperkirakan akan mencapai minus 14 derajat Celsius dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Harga Emas Kembali Berkilau, Ditutup Menguat 3,9% ke US$ 4.964 Per Ons Troi
Serangan Energi Meningkat di Tengah Upaya Diplomasi
Serangan terbaru ini terjadi hanya beberapa hari setelah putaran perundingan terbaru yang dimediasi Amerika Serikat antara Ukraina dan Rusia untuk mengakhiri perang.
Meski ada tekanan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pembicaraan diplomatik, upaya tersebut sejauh ini belum membuahkan hasil konkret.
Sejak musim gugur 2025, Rusia meningkatkan intensitas serangan terhadap jaringan listrik dan infrastruktur energi Ukraina.
Akibatnya, pemadaman listrik kerap terjadi di berbagai wilayah, membuat jutaan warga hidup tanpa listrik selama berjam-jam.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Menguat, Disokong Kekhawatiran Akan Kemungkinan Konflik Iran-AS
Pemerintah Ukraina menerapkan pemadaman listrik darurat secara nasional. Shmyhal mengatakan Kyiv juga meminta Polandia memasok listrik darurat guna menopang stabilitas jaringan listrik Ukraina.
Pejabat regional melaporkan serangan di berbagai wilayah, termasuk Khmelnytskyi, Rivne, Ternopil, Ivano-Frankivsk, dan Lviv di Ukraina barat.
Pembangkit listrik tenaga termal Burshtyn dan Dobrotvir dilaporkan turut terkena serangan.
DTEK, perusahaan energi swasta terbesar di Ukraina, menyatakan peralatan di sejumlah pembangkit listrik termalnya mengalami kerusakan signifikan.
Perusahaan itu mencatat serangan ini sebagai yang ke-10 terhadap pembangkit listrik termal mereka sejak Oktober 2025.
“Karena Rusia terus menargetkan fasilitas energi di berbagai wilayah, pemadaman listrik kemungkinan akan berlangsung lebih lama,” kata Gubernur Lviv Maksym Kozytskyi.
Baca Juga: Ketua The Fed Jerome Powell Bawa Kabar Buruk bagi Presiden Donald Trump, Apa Itu?
Ia menambahkan bahwa peringatan serangan udara di wilayah Lviv, yang berbatasan dengan Polandia, berlangsung lebih dari enam jam.
Sementara itu, otoritas Polandia menyatakan dua bandara di wilayah tenggara negara itu sempat menghentikan operasional sebagai langkah pencegahan akibat serangan Rusia di wilayah Ukraina yang berdekatan. Operasional bandara tersebut kemudian kembali normal.













